Monday, January 2, 2017

Catatan Negeri di Atas Awan (Dieng-Wonosobo part 2)

Tak terasa waktu begitu cepat belalu. Time flies. Posting terakhiku tentang pejalanan ke Dieng sempat delayed. Maafkan ya, hehe. Niat hati ingin memudahkan teman-teman mencari infomasi pejalanan ke Dieng, eh malah ga ketemu kan apa yang dicari? :)) Walau telat, aku lanjut saja ya. Semoga perjalanan yang sudah berlalu hampir 2 tahun ini masih nempel di otak :)

Setelah kami sada bahwa kami sudah tiba di Wonosobo, kami menyadari bahwa udara di luar sangatlah dingin. Saya yang sudah tebiasa hidup di pinggian daerah gegekalong (dikit lagi nyampe Lembang lah) masih merasakan dingin sampe ke tulang :p
Tak ada angkot 24 jam layaknya angkot Caheum-Ledeng di Bandung. Kami lalu menyeruput kopi hangat sambil mendekatkan diri satu sama lain selagi menunggu ide muncul (ideas start with coffee) hehe. Belum satu pun ide muncul, akhirnya seorang mas-mas datang menghampiri kami. Beliau yang berumur sekitar 35 tahun dengan sabarnya mendengar rencana perjalanan kami. Ternyata, beliau adalah seoang penjual jaket di daerah Dieng yang berasal dari Bandung. Sayangnya, saya lupa namanya. Kalau begitu, kami panggil saja Kang Ujang :)

Kang Ujang ternyata adalah salah satu penumpang bis Budiman yang kami tumpangi sepanjang pejalanan ke Wonosobo. Beliau juga menuju tempat yang sama dengan kami yaitu ke Dieng Plateau. Alhamdulillaah. Namun sayangnya, seharusna kami tidak behenti di teminal karena angkot yang seharusna kami tumpangi untuk menuju Wonosobo berada sekitar 4 km sebelum teminal Wonosobo (re: ketiduran). Ya sudah tidak apa-apa. Hal-hal sepeti inilah yang membuat cerita perjalanan semakin seru, hehe. Kami akhirnya memutuskan berjalan kaki sepanjang 4 km untuk sampai tujuan selanjutnya yaitu angkot yang menuju Dieng Plateau. Semangat!

 menikmati matahari terbit di sepanjang jalan Wonosobo-Dieng

Pagi hari sekitar pukul 7 akhirnya kami sampai di Dieng Plateau, yeay. Sorak-sorak bergembira! Disini dinginnya bukan main. Lebih dingin daripada Lembang dan kota Wonosobo. Siap-siap jaket ya :) Kami memutuskan untuk menyimpan barang-barang di sebuah penginapan atas saran kang Ujang. Penginapan yang cukup nyaman membuat kami senang karena selain nyaman tentunya juga sangat ramah di kantong, hehe. Cukup dengan merogoh kocek sebesar 400 ribu semalam untuk delapan orang, kami bisa menikmati kasur yang nyaman, televisi, air panas serta air minum gratis. Sayangnya lagi, saya lupa nama penginapannya :( Lokasinya sangat dekat dengan pertigaan sambutan "Welcome to Dieng". Lokasi toko jaket kang Ujang juga tidak jauh dari situ. Dari arah penginapan, toko jaket Kang Ujang berada di belokan pertigaan ke sebelah kiri, sementara sambutan "Welcome to Dieng" berada di belokan petigaan ke sebelah kanan. Sebelum berpamitan, kang Ujang berjanji besok pagi akan menjadi tour guide kami untuk berburu matahari terbit di puncak Sikunir. Yeay!



Sebelum melanjutkan perjalanan, saya dan teman-teman menyempatkan untuk sarapan telebih dahulu. Kami menghampiri sebuah warung, tak jauh dari penginapan. Setelah kami melihat menu, semua menu tampaknya didominasi jamur dan kentang. Ternyata Dieng adalah salah satu penghasil kentang dan jamur tebaik di Indonesia. Suatu kebanggaan bisa mencoba kentang dan jamur langsung dari tanah Dieng. Saya kemudian memesan satu porsi sup jamur. Harganya? Sepuluh ribu rupiah saja. Rasanya? Jamur tebaik yang penah saya cicip selama hidup saya! (continue)

Sup jamur ala Dieng









Hello, 2017!

source: pinterest

Ini adalah post petama saya di tahun 2017, yeay. Tahun baru, semangat baru, energi baru. Momen tahun baru adalah momen yang paling pas (setelah lebaran) bagi saya dan keluarga untuk silaturahmi karena biasanya orangtua, adik, keluarga dan sepupu-sepupu saya sedang libur kerja, sekolah dan kuliah. 
Bagi saya, tahun baru adalah tahun dimana kita sudah seharusnya betambah bijak dalam menghadapi segala situasi karena dengan betambahnya tahun, maka betambah pula umur kita. Bicara tentang tahun baru, setiap orang pasti punya harapan-harapan baru yang belum sempat diwujudkan di tahun-tahun sebelumnya. Begitu pula dengan saya :)
Sebelum becerita tentang harapan di tahun 2017, saya ingin mengingat kembali kejadian-kejadian yang saya alami pada tahun 2016. Tahun 2016 adalah tahun dimana saya sedang bersemangat menyelesaikan tugas akhir dan berakhir dengan thesis defense pada tanggal 16 Agustus 2016, tepat sehari sebelum peringatan hari kemedekaan Indonesia. 
Nah, harapan di tahun ini tentunya saya ingin bekerja, mencari rejeki yang halal. Pada tahun ini juga saya ingin menikah, melengkapi persyaratan untuk kuliah ke luar negeri dan mulai menabung untuk umrah, aamiin. Mari kita mulai 2017 dengan harapan-harapan baru dan menjadikan hari-demi hari sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik, bukan berarti lebih baik dari orang lain tetapi dari diri kita sendiri di tahun sebelumnya :)

Saturday, December 24, 2016

MENEMUKAN RUANG EKONOMI KREATIF DI BLIBLI GALERI INDONESIA



Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Kekayaan Negara Indonesia mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata tak tehitung jumlahnya. Salah satu cara mensyukuri nikmat Tuhan yang tak tehingga atas kekayaan yang kita miliki adalah dengan tidak merusaknya serta berusaha memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.  

Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sumber daya alam juga memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan perekonomian Negara. Di satu sisi, mungkin kita masih mendengar beberapa aset Negara yang masih dikuasai oleh Negara lain. Namun di sisi lain, kita patut berbangga karena dukungan pemerintah tehadap ekonomi kreatif terus meningkat. Lalu, apa itu ekonomi kreatif? Dikutip dari Wikipedia, ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama[1].

Dengan mendukung produk lokal, tentunya banyak sekali keuntungan yang kita dapatkan baik untuk diri sendiri maupun bagi masyarakat. Bagi produsen, ekonomi kreatif adalah suatu cara untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas. Suatu bahan mentah kelak akan memiliki nilai yang tinggi jika kita olah secara inovatif. Selain itu, hasil kreasi dan inovasi ini akan menjadi identitas suatu bangsa. Suatu kebanggaan, bukan? Bagi masyarakat, ekonomi kreatif akan meningkatkan kualitas hidup serta akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui tenaga kerja yang diserapnya. Selain itu, sisi ekonomi tak luput dari peran ekonomi kreatif. Devisa Negara akan meningkat jika kita menggunakan produk lokal, apalagi jika produk lokal karya anak bangsa dapat menembus pasar internasional. Sisi lain yang tak kalah pentingnya adalah sumber daya alam maupun manusia akan terus mengalami regenerasi jika ekonomi kreatif terus berkembang.

Kepedulian masyarakat Indonesia akan budaya ekonomi keatif sudah semakin meningkat. Salah satunya adalah dengan adanya ruang ekonomi kreatif yang mampu menampung karya anak bangsa demi berkontribusi tehadap perekonomian Negara. Blibli galeri Indonesia merupakan salah satu ruang ekonomi kreatif yang digagas oleh Bapak Kusumo Martanto. Blibli galeri Indonesia, sebuah E-commerce bagian dari blibli.com dengan konsep mal online  yang bisa diakses kapanpun, menghadirkan 100% Produk Kreatif Asli Indonesia dengan 11 kategori pilihan yaitu galeri batik, buku dan musik, kriya, kuliner, pakaian muslim, produk kecantikan, tiket  dan travel lokal,  galeri workshop serta galeri local brands Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Blibli bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif untuk mendorong generasi muda Indonesia agar terus berinovasi mengembangkan bisnis dengan hasil produk yang berkualitas[2]

Menurut Data Statistik Ekonomi Kreatif yang disusun Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), 3 bidang yang memiliki kontribusi terbesar terhadap ekspor produk lokal adalah bidang fashion sebesar 56,27% disusul oleh kriya sebesar 37,62% dan kuliner sebesa 6,09%. Tiga bidang tersebut tentunya banyak mendominasi di blibli galeri Indonesia. Sebagai contoh, di bidang fashion banyak designer muda Indonesia mewarnai ruang ekonomi kreatif diwadahi oleh blibli galeri Indonesia. Indonesia merupakan Negara dengan mayoritas muslim yang membuat trend busana muslim tidak penah ada habisnya. Semua belahan dunia melirik Indonesia sebagai salah satu peradaban fashion muslim yang patut diperhitungkan. Tercatat 3 nama designer muda seperti Zaskia Sungkar, Jenahara Nasution dan Ria Miranda ikut memasarkan produk kreatif 100% Indonesia yang mendunia di blibli galeri Indonesia.





Bidang kuliner pun tak ingin ketinggalan. Tercatat sebanyak 1283 produk kuliner dipasarkan di blibli galeri Indonesia mulai dari beras, mie instan hingga cemilan khas Indonesia*. Cita rasa kuliner khas Indonesia memang mendunia. Tak heran jika inovasi produk makanan instan siap ekspor mulai banyak diciptakan hingga seluruh pelosok dunia dapat dengan mudah mencicipi makanan khas Indonesia, tentunya dengan rasa dan kualitas makanan yang terjamin. Sebut saja seblak instan mommy, rendang instan uninam serta gudeg bu tjitro hadir di blibli galeri Indonesia dalam kemasan praktis sehingga dapat dengan mudah dinikmati penikmatnya. Saya sendiri adalah salah satu penggemar gudeg bu Tjitro. Rasa gudeg bu Tjitro yang dikemas kalengan tidak kalah nikmat dengan gudeg yang saya cicipi langsung di restorannya yang berlokasi di Jogjakarta. Sangat lezat dan higienis!



Blibli galeri Indonesia tidak hanya menawarkan kelimpahan produk lokal yang berkualitas namun juga menawarkan cicilan 0% serta gratis pengiriman ke seluruh pelosok nusantara**. Hemat, bukan? Tak hanya itu, setiap berbelanja produk apapun, shopper akan mendapat poin yang bisa ditukar dengan rewards tertentu. Berbelanja produk lokal memberikan segudang manfaat bagi para pelaku ekonomi kreatif khususnya dan bagi masyarakat umumnya. Mari memajukan ekonomi kreatif Indonesia, mari membiasakan diri dengan berbelanja produk lokal, sebagai partisipasi kita dalam memajukan perekonomian Indonesia, menuju Indonesia yang lebih sejahtera.

Love,


Sarin


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_kreatif
*Berdasarkan data pada tanggal 22 Desember 2016
**syarat dan ketentuan berlaku
 artikel ini disertakan dalam blibli blog competition

all picture credited to blibli galeri Indonesia, edited by sarinahanifa
 

Friday, March 27, 2015

Dieng Part 1 (Bandung - Wonosobo)

Telat nih postingnya. Tapi tidak apa-apa ya. Rasanya punya blog adalah jalan bagiku untuk memperbaiki kemampuan menulisku karena menurutku kemampuan menulis wajib dimiliki semua orang. Rasanya tidak enak jika membaca postingan salah satu teman yang struktur kalimatnya kurang baik. Bukannya paham, malah jadi salah paham. *eh, curhat XD *oke, lanjut cerita perjalananku ke Dieng saja ya.
Terik matahari cukup menyengat kala itu, 16 Januari 2015. Jumlah kendaraan roda dua dan roda empat rasanya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Polusi sepanjang perjalanan dari kampusku menuju terminal Cicaheum pun tak dapat kami hindari. Pohon pohon sepanjang jalan kota Bandung mulai berkurang populasinya sehingga menambah panasnya daerah Cicaheum. Para sopir taksi terlihat berteduh di bawah pohon yang tidak cukup rindang demi melindungi mereka dari paparan sinar matahari sembari menunggu datangnya penumpang. Panasnya cuaca kota Bandung kala itu tidak menyurutkankan semangatku dan teman-temanku untuk berpetualang ke negeri di atas awan, Dieng.
Sesampainya di terminal Cicaheum yang notabene masuk kategori kelas B, kami tak lupa menunaikan shalat Ashar karena bis yang akan membawa kami ke Dieng akan tiba pukul 16.45. Beberapa dari kami ada yang sudah meminum antimo supaya tidak merasakan mabuk darat J Aku sama sekali tidak ingin menenggak antimo karena aku tidak mudah mabuk darat dan hanya ingin melihat pemandangan di sepanjang jalan menuju Dieng. Setelah beberapa jam melalui perjalanan, ada satu hal yang baru  kusadari. Perjalanan menuju Dieng diperkirakan selama 9 jam dan kami melakukan perjalanan pada sore hingga malam hari. Jelas, tak ada pemandangan yang bisa dilihat, hehe.
Bis yang kami gunakan cukup nyaman menurutku. Bis budiman yang dipatok harga 85ribu melakukan pelayanannya dengan baik. Tarif bis pada saat itu sudah termasuk makan di restoran sederhana di daerah Ciamis dan air minum sebanyak 1 botol. Setelah memenuhi perintah perut untuk diisi, kuputuskan untuk meminum antimo hingga tidur terlelap, tak sadarkan diri, sampai pada akhirnya sang kondektur membangunkanku dan teman-teman setelah bis mendarat di terminal Wonosobo pada pukul 02.30 :D
Terminal yang luasnya sekitar 2kali lipat dari terminal Cicaheum ini sangat bersih. Jarang terlihat sampah berserakan dan yang paling penting menurutku, tidak ada abang-abang yang jualan secara paksa. Sangat berbeda dengan terminal yang berada di kota-kota besar. Kondisi terminal Wonosobo yang bersih dan nyaman tentunya menjadi mood booster tersendiri bagiku untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Dieng karena kondisi terminal Wonosobonya saja sudah bagus, apalagi Diengnya,  pikirku J

Bandung, 27 Maret 2015

Sarin


Thursday, August 28, 2014

Catatan Kecil untuk Wita dan Reza

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” –Bung Karno-

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang sangat tidak asing terdengar di telinga. Bung Karno merupakan sosok pahlawan yang mampu membangkitkan semangat para pemuda-pemudi Indonesia demi mencapai kejayaan Indonesia di masa penjajahan.

Sedikit demi sedikit, pikiranku terusik. Kembali pada “quote” di atas. Bagaimana caranya seorang pemuda mampu mengguncangkan dunia? Pertama, pikiranku tertuju pada peristiwa serangan Israel yang tiada hentinya terhadap Palestina. Kedua, pikiranku selanjutnya tertuju pada Prof Dr. B.H Habibie yang telah mendapatkan penghargaan dalam bidang pembangunan indsutri pada tahun 1997 serta telah menerima gelar doktor kehormatan dari sejumlah universitas, seperti Institut Teknologi Cranfield, Inggris; Universitas Chungbuk Korea dan beberapa universitas lainnya. Kedua peristiwa tersebut sama-sama mengguncang dunia. Namun, kita harus percaya bahwa yang patut kita contoh adalah kebaikan. Maka dari itu, mengguncang dunia pun harus dengan kebaikan. Lalu, bagaimana caranya mengguncang dunia di era kekinian?

Manusia yang berilmu dan berakhlak adalah masa depan bangsa,  aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita kehidupan bangsa kita di masa depan. Beruntunglah bagi mereka yang merasakan kehidupan sebagai mahasiswa. Dalam suatu komunitas, mahasiswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Mereka dituntut untuk melihat, merasakan, dan menyadari kondisi di sekitarnya. Mahasiswa tidak harus selalu mengedepankan aspek kognitif yang harus mereka capai demi mendapatkan gelar sarjana. Lebih dari itu, mahasiswa harus mewujudkan kondisi nyata dan lebih berperan aktif dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Usiaku kini mencapai 24 tahun lebih, begitupun dengan usia teman-teman di sekitarku. Tentulah peran terhadap masyarakat saat ini sudah sepantasnya bukan hanya sekedar ucap belaka. Saya selalu berdecak kagum terhadap pemikiran-pemikiran idealis dari beberapa teman yang memiliki berjuta-juta mimpi untuk diwujudkan. Beberapa teman seangkatanku ada yang meneruskan langkahnya sebagai guru di sekolah negeri dan swasta, meneruskan bisnis orang tua, meneruskan sekolah s2, bahkan ada pula yang mengabdi sebagai pengajar di daerah terpencil seperti pada program SM3T dan Indonesia Mengajar.

Wita Rohaenitasari dan Reza Firmansyah. Kedua temanku yang notabene mengikuti program SM3T ini sangat membanggakan. Mereka dengan keikhlasan dan kesungguhannya kemudian bergabung dengan program SM3T demi berkontribusi untuk kemajuan Indonesia. Tidak sedikit orang yang akhirnya tidak memilih program tersebut karena selama setahun ke depan, para peserta akan ditempatkan di daerah tertinggal. Sungguh walau dengan kondisi kekinian, aku yakin bahwa mereka adalah pemuda-pemudi yang kelak akan memiliki warisan cerita yang “mengguncangkan” dan kelak menjadi tumpuan harapan bangsa. Selamat menempuh perjalanan baru sebagai peserta SM3T dengan penuh berjuta-juta impian dan harapan, kawan. Semangat terus dalam menggapai mimpi, berkontribusi untuk bangsa dan beramal sebagai bekal di kemudian hari. Doaku selalu terpanjatkan untukmu :)

Monday, July 21, 2014

RAMADHAN : Dahulu, Kini, dan Nanti



Tak terasa bulan ramadhan akan segera berakhir. Alhamdulillah, puji syukur kepada sang penguasa alam yang telah mengizinkanku untuk dapat merasakan atmosfer ramadhan tahun ini. Ini merupakan ramadhan ke-24 yang aku jalani selama Tuhan mengizinkanku untuk menghirup udara pagi, merasakan hangatnya sinar mentari serta merasakan indahnya cahaya bulan dan bintang di malam hari. Sebenarnya, aku baru bisa menjalankan ibadah puasa saat usia ku menginjak 6 tahun. Waktu itu, aku masih kecil. Kalau tidak salah, baru kelas 1 SD. 

Banyak sekali perubahan yang terjadi selama pergantian ramadhan dari tahun ke tahun. Mulai dari adik ku yang saat ini telah bertambah dewasa, hingga aku sendiri yang telah melewati berbagai macam peristiwa. Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ramadhan adalah bulan berkah yang sangat aku tunggu-tunggu. Rasanya, rindu sekali bisa berkumpul dengan para sepupu tersayang. Sehabis buka puasa, biasanya kami berangkat ke mesjid bersama lalu melaksanakan shalat tarawih sambil nyemen. Ya, nyemen. Jika di-Bahasa Indonesia-kan arti nyemen itu adalah ngemil. Sebungkus mie rebus mentah tak lupa kami bawa sebagai perbekalan cemilan di sela-sela shalat tarawih di mesjid yang lokasinya tak jauh dari rumah. Sekarang, kebanyakan dari sepupuku itu telah menemukan pasangan hidupnya masing-masing, alias menikah :) :)

Tahun lalu, ramadhan terasa sangat singkat bagiku karena aku sendiri tengah menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan sidang skripsi. Hal yang saat itu luar biasa aku takutkan, akhirnya dapat aku lalui dengan baik.

Tahun ini, aku menjalankan ramadhan sebagai guru, mahasiswi, anak, kakak dan teman. Alhamdulillah ramadhan kali ini aku bisa kembali berkumpul, melakukan kegiatan bersama orang-orang yang baik, orang-orang yang luar biasa menginspirasi. 

Banyak hal yang menginspirasi diriku pada ramadhan tahun ini. Beberapa teman ku begitu bersemangat melakukan kegiatan sosial. Contoh kegiatan inspiratif yang dilakukan teman-temanku itu adalah mengajak masyarakat untuk menyumbangkan materi agar bisa disumbangkan ke panti asuhan. Subhanallah, walaupun mereka sepertinya disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing, ternyata kesibukannya itu sama sekali tidak mengurungkan niat baiknya ini. Mudah-mudahan tahun depan atau bahkan bulan depan, aku dan teman-teman (ayo, siapa yang mau jadi partner, hehe) bisa melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain, aamiin.

Tahun depan, mudah-mudahan aku bisa merasakan kembali keberkahan ramadhan seperti di tahun-tahun sebelumnya dengan ke-khusyuk-an ibadah yang lebih-lebih dan lebih dari tahun-tahun sebelumnya, apapun keadaannya.

Best Regards,


Sarina Hanifah

Monday, June 16, 2014

Feel Like a Superstar

Have you ever felt like a superstar? Yes I have. That's what I feel during my exchange project. My Thai students always stare at me when I'm walking in front of them. I don't know what they feel. I'm not type of people that comes from different race with them.We all have a same type of skin color. But then, they thought that we were different. Yes. I am Indonesian and they are Thai. Even mostly people there recognized me as Thai, not as Indonesian. My Thai students are all so nice. They would say 'sawaddee kha' as greeting all the time when I met them then they tried to talk with me in Thai and often asked me for taking picture. I only could answer: chan phud phasa Thai nit noi kha (I can speak Thai a little). I miss you kids! Been a teacher for probably one and half month give me such a wonderful experience. That sounds great! :) :)


take me back to Takamraidueasamakkee school (1)


take me back to Takamraidueasamakkee school (2)


take me back to Takamraidueasamakkee school (3)


take me back to Takamraidueasamakkee school (4)


Best Regards,



Sarina Hanifah