Telat nih
postingnya. Tapi tidak apa-apa ya. Rasanya punya blog adalah jalan bagiku untuk
memperbaiki kemampuan menulisku karena menurutku kemampuan menulis wajib
dimiliki semua orang. Rasanya tidak enak jika membaca postingan salah satu
teman yang struktur kalimatnya kurang baik. Bukannya paham, malah jadi salah
paham. *eh, curhat XD *oke, lanjut cerita perjalananku ke Dieng saja ya.
Terik matahari
cukup menyengat kala itu, 16 Januari 2015. Jumlah kendaraan roda dua dan roda
empat rasanya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Polusi sepanjang
perjalanan dari kampusku menuju terminal Cicaheum pun tak dapat kami hindari. Pohon
pohon sepanjang jalan kota Bandung mulai berkurang populasinya sehingga
menambah panasnya daerah Cicaheum. Para sopir taksi terlihat berteduh di bawah
pohon yang tidak cukup rindang demi melindungi mereka dari paparan sinar matahari
sembari menunggu datangnya penumpang. Panasnya cuaca kota Bandung kala itu
tidak menyurutkankan semangatku dan teman-temanku untuk berpetualang ke negeri
di atas awan, Dieng.
Sesampainya di
terminal Cicaheum yang notabene masuk kategori kelas B, kami tak lupa
menunaikan shalat Ashar karena bis yang akan membawa kami ke Dieng akan tiba
pukul 16.45. Beberapa dari kami ada yang sudah meminum antimo supaya tidak
merasakan mabuk darat J
Aku sama sekali tidak ingin menenggak antimo karena aku tidak mudah mabuk darat
dan hanya ingin melihat pemandangan di sepanjang jalan menuju Dieng. Setelah
beberapa jam melalui perjalanan, ada satu hal yang baru kusadari. Perjalanan menuju Dieng diperkirakan
selama 9 jam dan kami melakukan perjalanan pada sore hingga malam hari. Jelas,
tak ada pemandangan yang bisa dilihat, hehe.
Bis yang kami
gunakan cukup nyaman menurutku. Bis budiman yang dipatok harga 85ribu melakukan
pelayanannya dengan baik. Tarif bis pada saat itu sudah termasuk makan di
restoran sederhana di daerah Ciamis dan air minum sebanyak 1 botol. Setelah
memenuhi perintah perut untuk diisi, kuputuskan untuk meminum antimo hingga
tidur terlelap, tak sadarkan diri, sampai pada akhirnya sang kondektur
membangunkanku dan teman-teman setelah bis mendarat di terminal Wonosobo pada
pukul 02.30 :D
Terminal yang
luasnya sekitar 2kali lipat dari terminal Cicaheum ini sangat bersih. Jarang
terlihat sampah berserakan dan yang paling penting menurutku, tidak ada
abang-abang yang jualan secara paksa. Sangat berbeda dengan terminal yang
berada di kota-kota besar. Kondisi terminal Wonosobo yang bersih dan nyaman
tentunya menjadi mood booster tersendiri
bagiku untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Dieng karena kondisi terminal
Wonosobonya saja sudah bagus, apalagi Diengnya, pikirku J
Bandung, 27 Maret 2015
Sarin
part 2-nya mana? :p
ReplyDeletekamu yang komen, kirain siapa :p
Deletepart 2 nya? blm ada ide buat nulis lagi hahaha
jadi maluu :")