“Berikan aku seribu orang tua, niscaya
akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan
kuguncangkan dunia.” –Bung Karno-
Kalimat
tersebut merupakan kalimat yang sangat tidak asing terdengar di telinga. Bung
Karno merupakan sosok pahlawan yang mampu membangkitkan semangat para
pemuda-pemudi Indonesia demi mencapai kejayaan Indonesia di masa penjajahan.
Sedikit
demi sedikit, pikiranku terusik. Kembali pada “quote” di atas. Bagaimana caranya
seorang pemuda mampu mengguncangkan dunia? Pertama, pikiranku tertuju pada
peristiwa serangan Israel yang tiada hentinya terhadap Palestina. Kedua,
pikiranku selanjutnya tertuju pada Prof Dr. B.H Habibie yang telah mendapatkan penghargaan dalam bidang pembangunan indsutri pada tahun 1997 serta telah menerima gelar doktor kehormatan dari
sejumlah universitas, seperti Institut Teknologi Cranfield, Inggris;
Universitas Chungbuk Korea dan beberapa universitas lainnya. Kedua
peristiwa tersebut sama-sama mengguncang dunia. Namun, kita harus percaya bahwa
yang patut kita contoh adalah kebaikan. Maka dari itu, mengguncang dunia pun
harus dengan kebaikan. Lalu, bagaimana caranya mengguncang dunia di era
kekinian?
Manusia
yang berilmu dan berakhlak adalah masa depan bangsa, aktor-aktor penting yang sangat diandalkan
untuk mewujudkan cita-cita kehidupan bangsa kita di masa depan. Beruntunglah bagi mereka yang merasakan kehidupan
sebagai mahasiswa. Dalam suatu komunitas, mahasiswa merupakan bagian yang tidak
terpisahkan. Mereka dituntut untuk melihat, merasakan, dan menyadari kondisi di
sekitarnya. Mahasiswa tidak harus selalu mengedepankan aspek kognitif yang
harus mereka capai demi mendapatkan gelar sarjana. Lebih dari itu, mahasiswa
harus mewujudkan kondisi nyata dan lebih berperan aktif dan dapat dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat luas.
Usiaku
kini mencapai 24 tahun lebih, begitupun dengan usia teman-teman di sekitarku.
Tentulah peran terhadap masyarakat saat ini sudah sepantasnya bukan hanya
sekedar ucap belaka. Saya selalu berdecak kagum terhadap pemikiran-pemikiran
idealis dari beberapa teman yang memiliki berjuta-juta mimpi untuk diwujudkan.
Beberapa teman seangkatanku ada yang meneruskan langkahnya sebagai guru di
sekolah negeri dan swasta, meneruskan bisnis orang tua, meneruskan sekolah s2,
bahkan ada pula yang mengabdi sebagai pengajar di daerah terpencil seperti pada
program SM3T dan Indonesia Mengajar.
Wita
Rohaenitasari dan Reza Firmansyah. Kedua temanku yang notabene mengikuti
program SM3T ini sangat membanggakan. Mereka dengan keikhlasan dan
kesungguhannya kemudian bergabung dengan program SM3T demi berkontribusi untuk
kemajuan Indonesia. Tidak sedikit orang yang akhirnya tidak memilih program
tersebut karena selama setahun ke depan, para peserta akan ditempatkan di
daerah tertinggal. Sungguh walau dengan kondisi kekinian, aku yakin bahwa mereka
adalah pemuda-pemudi yang kelak akan memiliki warisan cerita yang “mengguncangkan”
dan kelak menjadi tumpuan harapan bangsa. Selamat
menempuh perjalanan baru sebagai peserta SM3T dengan penuh berjuta-juta impian
dan harapan, kawan. Semangat terus dalam menggapai mimpi, berkontribusi untuk
bangsa dan beramal sebagai bekal di kemudian hari. Doaku selalu terpanjatkan
untukmu :)
No comments:
Post a Comment